Pragmatisme Pierce

Pragmatisme: Pierce, James dan Dewey

Secara umum, apa yang diidentifikasi sebagai filsafat pragmatisme adalah pemikiran filsafat yang terkait erat dengan pandangan-pandangan tiga pemikir utama Amerika: Charles S. Peirce (1839-1914), William James (1842-1909), dan John Dewey (1859-1952). Dari ketiga sosok ini, Pierce bukan saja pendiri dari gerakan pragmatisme, tetapi mungkin merupakan representatif paling menonjol, dan dari perspektif jangka panjang, yang paling penting. Meskipun James merupakan sosok yang paling berperan mempopulerkan istilah “pragmatisme” dan memperkenalkan kepada khalayak internasi­onal, James, yang merupakan karib Pierce dalam waktu lama, dalam salah satu kuliahnya di 1898, tetap memberikan penghargaan kepada Pierce sebagai pemformulasi awal pragmatisme. (h. 15)

Menariknya, Pierce sendiri tidak puas terhadap interpretasi James atas ide-ide esensial pragmatisme. Sebagai akibatnya, dia memilih untuk melepaskaitkan dirinya dari apa yang waktu itu dikarakterisasi sebagai ‘pragmatisme’ oleh banyak penulis di Eropa dan Amerika. Pierce, karenanya, mengajukan gagasan untuk melepas istilah ‘pragmatis­me’ sebagai label bagi doktrin-doktrinnya dan menggantinya dengan istilah ‘pragmatisis­me’ – istilah yang menurut Pierce “cukup buruk untuk selamat dari para penculik”. Faktanya, Pierce benar! Tidak ada seorang pun yang memakai istilah ‘pragmatisisme’ dan Pierce tetap dikaitkan dengan ‘pragmatisme’ dalam semua pembahasan standar subyeknya. Sepanjang waktu, Pierce terus menulis dan mereformulasi secara signifikan versi ‘pragmatisme’nya. (h.15)

Perbedaan orientasi pragmatisme Pierce dibanding James dan Dewey terletak pada ketertarikan utama Pierce adalah untuk mengklarifikasi aspek-aspek tertentu dari penelitian ilmiah (scientific inquiry). Adapun bagi James, pragmatisme berfungsi sebagai teori mengenai teknik untuk menyelesaikan perselisihan metafisikal dan sebagai dukungan filosofis bagi penegakan “hak untuk mempercayai hipotesis-hipotesis relijius”. Pragmatisme Dewey, yang sering disebut sebagai ‘intrumentalisme’, memperluas metode penelitian ilmiah (‘intelijensia eksperimental’) meliputi semua aspek dari pengalaman manusia atau budaya, yang di dalamnya intelijensia mungkin dipakai untuk menyelesai­kan masalah, memenuhi kebutuhan manusia, dan mengatur lingkungan hidup. Bagi Dewey, kepedulian ilmiah terhadap kebenaran hanyalah merupakan salah satu kepedulian atau dimensi pengalaman manusia. Bukan sains empiris sebagai suatu pencarian kebe­naran tak-padu atau suatu orientasi relijius terhadap dunia yang menjadi kekuatan pendorong filsafat Dewey. Kepedulian-kepedulian humanistik dan sosial-lah yang men­jadi pusat perhatian Dewey. Transformasi pada semua wilayah pengalaman yang menim­bulkan situasi problematik (dalam ilmu politik, ilmu ekonomi, pendidikan, hukum, perilaku sosial, dan seni) merupakan fokus utama ketertarikan Dewey. Dalam konteks atas tema-tema inilah Dewey mengembangkan versi pragmatismenya, memperoleh para­digmanya, dan berupaya mengaplikasikan metode intelijensia eksperimental. (h. 16)

Ringkasan materi kuliah ini hanya akan membahas ide-ide sentral pragmatisme Pierce, terutama yang terdapat pada dua esai klasiknya: The Fixation of Belief (1877) dan How to Make Our Ideas Clear (1878). Sekitar tahun 1903, Pierce mengkombinasikan kedua esai ini dalam dalam satu bab berjudul “My Plea of Pragmatism” dalam sebuah buku yang dia rencanakan, yang pada akhirnya tetap tidak diterbitkan. (h. 16-7)

Natur Keyakinan

Menurut Pierce, sebuah keyakinan adalah “penegasan (assertion) atas dalil (propotion) yang dianggap benar oleh seseorang; atas keyakinan inilah seseorang secara sadar siap untuk bertindak melalui suatu cara pasti tertentu; keyakinan menandai suatu kebiasaan pikiran (habit of mind); dan keyakinan adalah kebalikan dari suatu kondisi ragu. (h. 27)

Dalil (Proposition)

Pertama, setiap keyakinan adalah keyakinan terhadap dalil. Dan dalil bisa dianggap secara mendasar memiliki dua komponen: sebuah subyek dan sebuah predikat. Subyek menjelaskan ‘apa yang dipercayai’, sementara predikat ‘mengeks­presikan’ apa yang dipercayai.

Penegasan (Assertion)

Penegasan menggambarkan suatu sikap awal tertentu: cara kita merespon, sikap mental atau perilaku yang kita ambil dalam hubungannya dengan, suatu dalil partikular. Sebagai tambahan bagi penegasan, terdapat sikap-sikap awal lain yang mungkin. Seseo­rang mungkin menyatakan dalil, meragukan, mempertanyakan, memerintahkan (orang lain untuk mengadopsi), melaporkan, memeriksa struktur logika dan gramatikalnya, dan seterusnya. Tetapi untuk memiliki keyakinan atasnya, diperlukan kesiapan, dalam situasi tertentu, untuk memberi penegasan atasnya. Hal ini menandai fitur spesifik dari sikap seseorang yang sangat berbeda dari sikap-sikap awal lain terhadap dalil. (h. 28)

Menegaskan dalil, karenanya, berarti mengikatkan komitmen seseorang pada dalil, menguatkan, menanggung, atau konsekuensinya bertaruh bahwa dalil tersebut adalah benar. Hal ini sama dengan membuat seseorang bertanggung jawab atas kebenarannya. (h. 28)

Kebiasan Pikiran (Habit of Mind)

Komponen ketiga dari keyakinan adalah bahwa keyakinan merupakan penanda dari kebiasaan pikiran ditinjau dari sudut bahwa seseorang akan bertindak dengan suatu cara pasti tertentu, ketika sebuah kesempatan, dan seterusnya mengundang keyakinan bersangkutan. (h. 29)

Kepercayaan, sebagai sebuah kebiasaan, bukanlah suatu keadaan kesadaran yang bersifat sementara, seperti mengalami sengatan rasa sakit atau melihat kilatan cahaya. Sebagai sebuah kebiasaan, kepercayaan berlangsung dan bertahan sepanjang waktu. Suatu kepercayaan, tentu saja, bisa ditentang, diabaikan, atau diganti dengan beberapa keyakinan lain, pada kasus yang manapun kepercayaan baru akan menandai suatu kebiasaan pikiran yang baru dan berbeda. Sebuah kepercayaan sebagai sebuah kebiasaan merupakan hal umum. Kepercayaan ini bisa digunakan untuk menyelesaikan sesuatu pada lebih dari satu kesempatan. Seseorang yang mengadopsi sesuatu keyakinan akan secara berulang dan sengaja menggunakan cara yang sama untuk mengatasi masalah yang di dalamnya suatu keyakinan dapat diterapkan, baik keyakinan itu bersifat praktis atau teoritis. (h. 29)

Pierce menunjukkan bahwa keyakinan tidak hanya diperoleh sebagai hasil dari serangkaian pengalaman yang aktual terjadi, tetapi dapat pula diperoleh dari penggunaan imaginasi. Pada situasi ini, berarti seseorang mengadopsi keyakinan dengan cara mempertimbangkan berbagai kasus yang mungkin, yang di dalamnya suatu keyakinan dapat diterapkan. (h. 30)

Karena keyakinan bernatur kebiasaan, dimilikinya suatu keyakinan haruslah dikenali dari beragam tindakan yang dituntut oleh keyakinan bersangkutan – konsekuensi-konsekuensi praktis yang diharapkan dari dimilikinya suatu keyakinan. Seseorang harus melihat kepada tindakan-tindakan – konsekuensi-konsekuensi perilaku atau praktis – sebagai kriteria utama untuk menentukan apa yang sebenarnya menjadi keyakinan seseorang. Faktor penting keyakinan bukan hanya pada formulasi verbal atau linguistik dari keyakinan. Fakta terdapatnya perbedaan-perbedaan pada formulasi verbal keyakinan tidak perlu diambil sebagai petunjuk adanya berbedaan keyakinan yang sejati. Satu-satunya ujian bagi kesejatian perbedaan keyakinan adalah dengan melihat apakah adanya perbedaan pada rangkaian tindakannya – kebiasaan berekspektasi yang berbeda, kebiasaan atau ‘konsekuensi praktis’ yang berbeda pada perilaku yang dimanifestasikan seseorang, yang keyakinannya sedang dipertanyakan. (h. 30)

Keraguan dan Keyakinan (Doubt and Belief)

Keyakinan menandai penegasan atau penerimaan dalil, sementara keraguan me­nunjuk pada kehadiran sikap mental mempertanyakannya yang aktif dan sejati,  atau keti­adaan kesiapan untuk menegaskan atau menerima. Karena itu, keraguan harus dibedakan dari pengabaian, atau ketidakpedulian total terhadap dalil yang dipertanyakan. (h. 31)

Perbedaan antara keraguan dan keyakinan bisa ditandai dengan berbagai cara tambahan. Pertama dan terutama, adalah perbedaan sensasi lanjutannya atau perasaan yang menyertai keduanya. Berada dalam keadaan ragu bukan berarti sekedar meletakkan tanda tanya di belakang suatu dalil, atau mengekspresikannya secara interogatif. Apa yang dimaksudkan Pierce sebagai keraguan adalah sesuatu yang dirasakan secara sebe­narnya, pengalaman hidup yang aktif. Keraguan merupakan kondisi subyektif tidak dapat memutuskan atau ketidakpastian sejati, yang dialami seseorang, ketidakmampuan atau pada derajat tertentu keraguan untuk memberikan komitmen terhadap suatu dalil. (h. 31)

Pierce membedakan keraguan sejati dan keraguan yang dibuat-buat. Menurutnya, keraguan, sebagai lawan dari keyakinan, adalah keraguan sejati, bukan jenis yang dibuat-buat. Karena itu, Pierce mengklaim bahwa ‘metode keraguan’ Descartes harus ditolak karena merupakan teknik berfilsafat yang cacat. Descartes mendorong penggunaan metode keraguan yang dibuat-buat. Metode ini meminta kita untuk meragukan masalah-masalah yang dalam kondisi normal kita tidak memiliki alasan atau kesempatan sedikitpun untuk meragukan. (h. 32)

Pierce mempertahankan sikap, berbeda dengan Descartes, bahwa setiap dari kita diperlengkapi dengan keyakinan-keyakinan ‘indubitabel’ (indubitable beliefs) – keyakin­an-keyakinan yang kita tidak mampu meragukan secara sebenarnya pada suatu saat. (h. 32)

Indubitabel, namun demikian, bukan berarti tidak dapat dikoreksi (incorrigable) Menurut Pierce, setiap keyakinan adalah terbuka terhadap keraguan dan koreksi – ketika keraguan sejati atasnya muncul, atau kritisisme dan penelitian memperlihatkan keyakinan bersangkutan perlu untuk dimodifikasi, dikoreksi, atau malah diabaikan. (h. 32)

Cara kedua yang penting untuk melihat perbedaan antara keyakinan dan keraguan adalah terkait dengan perbedaan perilaku. Memiliki suatu keyakinan, seperti telah dibahas di muka, berarti memiliki suatu kebiasan pikiran yang membuat peyakinnya mengharapkan konsekuensi-konsekuensi tertentu dari keyakinanya. Seseorang akan bertindak sesuai keyakinan ketika kesempatan yang relevan muncul. Sebaliknya, ketika seseorang dalam keraguan, perilakunya tidak akan menunjukkan keteraturan respon yang menjadi ciri dari seseorang yang memiliki keyakinan. Namun demikian, baik keraguan maupun keyakinan memiliki derajat, yang termanifestasi pada derajat keteraturan dan ketidakteraturan perilaku. Pada kasus yang manapun, perbedaan utama antara keraguan dan keyakinan adalah perbedaan praktikal. (h. 33)

Terakhir, perbedaan antara keraguan dan keyakinan ditandai oleh kenyataan bahwa berada dalam keraguan sejati berarti mengalami sebuah tekanan, berada dalam kondisi terusik, tidak mapan, dan ketidaknyamanan, yang karenanya seseorang akan berupaya mencari jalan keluar, mencari keyakinan. Keyakinan, sebaliknya, adalah kondisi tenang dan nyaman yang membuat kita tidak ingin keluar darinya, atau meyakini hal lain. (h. 33)

Metode Mengatasi Keraguan

Mempertimbangkan fakta psikologis, bahwa memiliki keyakinan sangatlah lebih diinginkan daripada berada pada kondisi keraguan, Pierce memeriksa secara detail berbagai metode mempengaruhi pemapanan opini (settlement of opinion), untuk mendapatkan keyakinan yang mendalam (fixation of belief). Berdasarkan pengamatannya terhadap perilaku manusia, Pierce mengemukakan empat metode dasar: (1) metode keteguhan (method of tenacity), (2) metode otoritas (the method of authority, (3) metode a priori (a priori method), dan (4) metode sains (the method of science). (h. 34).

Metode Keteguhan

Metode keteguhan adalah upaya untuk mendapatkan suatu keyakinan dengan cara mengambil beberapa keyakinan, sesembarang apapun cara memilihnya (secara acak, imitasi, atau dari sumber manapun), yang dapat mengatasi keraguan. Dengan memeluk keyakinan secara gigih, mengulanginya, dan menolak alternatif, seseorang akan memuaskan kebutuhan psikologisnya untuk mengatasi kondisi keraguannya. Metode ini, sebagai sebuah cara menjustifikasi suatu keyakinan ditandai oleh penolakan untuk beralih, penolakan untuk memeriksa secara terbuka dan kritis kebaikan relatif dari keyakinan tersebut, untuk memeriksa atau mendatangkan bukti-bukti yang mungkin menunjukkan kebenaran dan kekuatannya. Rasa aman emosional dari memiliki suatu keyakinan, atau dari ketidakbersediaan keyakinannya untuk dibenturkan dan dibuka bagi peninjauan dan karenanya terpapar risiko tercerabut yang mungkin, lebih diinginkan dari segala sesuatu yang lain.  (h. 35-6)

Metode keteguhan biasanya dipakai oleh individu yang dominan kebutuhan-kebutuhan emosionalnya. Meski determinan psikologisnya sangat kuat, menurut Pierce, terdapat dua faktor yang dapat memecah belenggu dan memudarkan keberlanjutan kepercayaan pada metode ini. Faktor pertama adalah sensitivitas terhadap pertimbangan logis, yang disebut Pierce sebagai rasa kewarasan (sense of sanity). Seseorang mungkin akan mengenali, betapa kabur atau sekilas terbersitnya, bahwa orang lain memiliki kepercayaan-kepercayaan yang berbeda dengan miliknya. Dia mungkin kemudian menyadari bahwa tidak mungkin semua keyakinan adalah benar, karena secara logika tidak kompatibel satu dengan yang lainnya. Bibit keraguan yang muncul karena pertim­bangan logika ini mungkin cukup mengganggu sehingga memutuskan kepercayaannya terhadap metode keteguhan. Faktor yang lain adalah dimensi sosial. Kita, bagaimanapun, normalnya bukanlah pertapa. Kita mengharapkan dan membutuhkan kenyamanan dan perasaan untuk bersetuju dengan orang lain, untuk menjadi bagian dari sebuah komunitas dari individu-individu yang memiliki selera dan opini yang sama. Metode keteguhan mungkin akan ditinggalkan jika menghalangi integrasi sosial ini. (h. 36)

Metode Otoritas

Ketika keseluruhan komunitas mengadopsi suatu keyakinan atau himpunan keyakinan, yang mana pengadopsiannya terjadi akibat diberlakukan oleh beberapa sumber sentral, dan kelanjutan penerimaannya oleh komunitas merupakan masalah penegakan oleh otoritas sentral, maka inilah yang disebut Pierce sebagai metode otoritas. (h. 36)

Metode otoritas berbeda dari metode keteguhan baik dalam hal memperoleh maupun menjustifikasi keyakinan. Pierce menggambarkan berjalannya metode ini lewat dua kondisi (h. 38):

  1. Pemberlakuan oleh otoritas, keyakinan-keyakinan kepada komunitas tanpa mentoleransi simpangan, kritisisme, atau modifikasi keyakinan, dan tanpa mendorong atau mengijinkan suatu evaluasi rasional atas kebaikan dari keyakinan yang diberlakukan.
  2. Kesediaan dari penerima keyakinan untuk menjustifikasi keyakinan terutama diperoleh dengan merujuk tanpa mempertanyakan kepada persetujuan sumber otoritatif.

Metode otoritas Pierce pada dasarnya merupakan gambaran dari apa yang secara lebih tepat disebut sebagai metode otoritarian (authoritarian). Sebab mekanisme transmisi keyakinan otoritas kepakaran adalah sangat berbeda – terbuka terhadap evaluasi dan konfirmasi publik. (h. 38)

Efektivitas dari penggunaan metode otoritas tergantung dari dua hal: pertama, kekuatan kekuasan yang memadai dari otoritas untuk mengatur dan memaksakan keyakinan yang seragam; dua, kesediaan komunitas untuk menerima apapun yang didiktekan otoritas. Ketika salah satu atau kedua faktor ini melemah atau mengalami disintegrasi, maka kontrol otoritas juga akan melemah. (h. 39)

Melemahkan kontrol otoritas akan menimbulkan celah bagi peninjauan terbuka atas keyakinan-keyakinan bahkan perubahannya. Pertama, ketika otoritas tidak mampu mengontrol semua opini, maka anggota komunitas akan mulai membahas opini-opini yang tidak diputuskan oleh otoritas. Debat, pertanyaan, atau keraguan atasnya, biasanya cenderung merambat ke opini-opini yang dikontrol otoritas, dan pada gilirannya bisa meruntuhkan sikap kepatuhan mutlak yang diberikan kepada otoritas. Kedua, jika kepatuhan mutlak juga dibangun juga lewat isolasi terhadap kontak keluar komunitas, maka jika terjadi kontak keluar, anggota komunitas mungkin akan terbuka wawasannya terhadap skema perilaku dan keyakinan yang lain, yang akan menyadarkan mereka bahwa keyakinannya bukanlah yang terbaik. Bibit keraguan, atau bahkan revolusi, boleh jadi tertebar. Ketiga, bahkan pada komunitas yang paling diktator, otoritarian, represif, atau terisolasi, seringkali terdapat beberapa individu yang memiliki cukup imajinasi, inisiatif, keberanian, dan kreativitas, untuk berpikir berbeda dari kaumnya. Cara berpikir baru mereka, jika bisa terkomunikasikan kepada anggota lain dari komunitas, mungkin cukup mengganggu cara berpikir anggota komunitas yang seragam dan statis. (h. 39)

Metode A Priori

Metode a priori, oleh Pierce sering diberi juga sebutan sebagai ‘tindakan tanpa rintangan dari preferensi alami’, ‘metode kecondongan’, ‘perkembangan alami opini’, ataupun ‘ketertarikan pada apa yang dapat disetujui akal’. (h. 40)

Fitur utama metode a priori adalah bahwa perolehan dan justifikasi keyakinan dipandang sebagai masalah rasa, apa yang terbukti dengan sendirinya, dapat disetujui oleh akal, dan seterusnya. Pada pendekatan ini keyakinan tidak diperoleh secara sembarangan ataupun dipaksakan dari luar. Metode ini memperkenankan adanya perbedaan dan kebebasan memilih. Metode ini hanya mensyaratkan bahwa keyakinan perlu memuaskan dari sudut rasa estetik, intuitif, atau intelektual mengenai apa yang ‘patut’, ‘benar’, ‘tepat’ dan ‘pas’. (h. 41)

Keyakinan tidak perlu secara terbuka diuji dengan pengalaman observasional yang mungkin dicapai. Meski metode ini lebih unggul dibanding dua metode sebelumnya, Pierce menyatakan metode ini memiliki kelemahan yang sangat mendasar. Sebagai masalah intelektual, yang kepeduliannya adalah mendapatkan kebenaran, kriteria pemilihan dalam metode ini adalah terlalu objektif, dan berubah-ubah. Apa yang nampak sebagai ‘terbukti dengan sendirinya’, ‘jelas’, ‘sebuah masalah dengan kepastian intuitif’ bagi seseorang, kelompok atau kultur, sangat jelas tidak sama bagi yang lainnya. Keyakinan yang disepakati oleh metode ini, terlalu banyak yang menjadi subyek dari ‘sebab-sebab kebetulan’. Keyakinan yang dipilih oleh metode ini adalah hantaran-hantaran akal yang kapasitasnya tidak digunakan secara memadai untuk analisis kritis terhadap berbagai alternatif. Metode ini terlalu sedikit dipandu oleh investigasi fakta-fakta yang terselaraskan dan lama yang akan menjadikanya dikenali oleh semua manusia. (h. 41-2)

Metode Sains

Metode sains atau metode investigasi (investigation), bagi Pierce adalah metode yang paling penting dan handal (reliable). Sebagian besar pemikiran dan tulisan Pierce adalah untuk memberi penjelasan dan penopang bagi metode ini, oleh karena itu metode ini akan dibahas dalam dua subbahasan tersendiri.

Investigasi: Kebenaran dan Realitas

Pierce menggunakan beberapa istilah untuk menyebut metode investigasi: ‘sains’, ‘pencarian – inkuiri’, ‘penalaran – reasoning’. Pembahasan mengenai metode ini pada semuanya aspeknya, dalam arti paling luas dan dalam, masuk ranah logika (logic). (h. 42)

Perbedaan metode ini dengan tiga metode sebelumnya adalah terletak pada natur dari konklusi akhir yang dihantarkannya, yang dalam setiap kasus sudah ditakdirkan sejak awal, tanpa merujuk pada kondisi awal dari keyakinan. Jika dua akal pikiran meneliti suatu pertanyaan secara independen dan keduanya menjalankan prosesnya secara cukup, maka keduanya akan sampai pada persetujuan yang tidak akan terganggu lagi oleh hasil investigasi yang selanjutnya. (h. 43)

Seperti telah disinggung di muka, adalah tugas logika untuk mengeksplorasi semua aspek yang berbeda dari metode investigasi. Logika, sebagai sains normatif, harus memformulasikan kriteria spesifik untuk mengevaluasi dan memandu investigasi. Pierce, karena itu, menawarkan gagasan yang tersendiri tentang seperti apa kriteria tersebut. Dua pandangan utama Pierce untuk aspek ini adalah teori kebenaran (theory of truth) dan teori makna (theory of meaning). (h. 43)

Menurut Pierce, realitas adalah independen dari tindak penilaian (judgment) yang manapun; dari tindak berpikir siapapun; keyakinan-keyakinan yang benar mengenai realitas hanya bisa ditetapkan melalui penerapan metode investigasi secara terus menerus. Investigasi memerlukan observasi, penalaran, dan penggambaran konsekuensi-konsekuensi dari keyakinan-keyakinan melalui proses interpretasi, yang mesti diuji dan diinterpretasi ulang oleh interpretasi lanjutan, dan seterusnya tanpa batas. Penerapan berulang metode investigasi akan menghasilkan suatu persetujuan dan keseragaman keyakinan yang terus tumbuh di antara para individu yang membentuk komunitas peneliti. Sesuatu yang secara gradual menjadi semakin disepakati berarti didorong dan ditentukan oleh natur dari segala sesuatu; sesuatu ini adalah independen dari penilaian individu atau kelompok yang manapun. Kebenaran, dengan demikian, secara gradual ditemukan dan ditempatkan dalam keyakinan-keyakinan yang benar. Realitas dalam arti yang demikian inilah yang menunggu realisasi atau aktualisasi oleh kekuatan-kekuatan pikiran kita. Ketika realitas ini secara aktual dipahami, natur realitas tersampaikan lewat tanda-tanda (sign) linguistik. (h. 44)

Konsepsi independen Pierce tidak bermakna sebagai ‘sesuatu yang ada pada dirinya sendiri’ yang memiliki karakter-karakter tertentu yang independen sama sekali dari peran pikiran dalam menentukan karakter-karakter tersebut, tetapi bermakna terlepas dari apa yang dipikirkan oleh person partikular atau kalangan terbatas. (h.44) Realitas tidaklah independen dari apa mungkin ditemukan oleh keseluruhan komunitas peneliti. (h. 45)

Kebenaran, dalam konsepsi Pierce, paling baik dipahami ekuivalen de­ngan kon­sep realitas tersebut. Pierce, di atas segalanya, peduli untuk menunjukkan bahwa realitas adalah dapat ditentukan dan dapat diekspresikan dalam pikiran. Gagasan bahwa realitas memiliki karakter tertentu yang selamanya tidak bisa disingkap oleh investigasi atau dibawa oleh keyakinan-keyakinan manusia, adalah alien dalam filsafat Pierce. (h. 45)

Kebenaran berhubungan dengan properti keyakinan yang akan sampai sebagai hasil suatu proses pencarian atau investigasi. Kebenaran bukanlah properti keyakinan-keyakinan saja yang independen dari proses tersebut. Konsep kebenaran harus dipahami sebagai aktivitas meneliti, menguji, dan menerima apa yang didukung oleh pengalaman secara terus menerus. (h. 48)

Realitas sebagai ‘kebenaran’ mungkin tidak secara memadai diketahui pada suatu waktu. Sebagian besar anggota komunitas bahkan mungkin tertipu dan memiliki keyakinan-keyakinan yang salah atau tidak memadai seperti yang seharusnya. Namun demikian, investigasi yang terus-menerus pada akhirnya akan mengkoreksi keyakinan-keyakinan tersebut. (h. 47)

Makna

Teori makna pragmatis sangat penting untuk menghasilkan logika yang sehat guna memandu penelitian. Bagi Pierce, mencapai kejelasan ide-ide adalah kondisi dasar yang harus dipenuhi jika kebenaran menjadi ketertarikan utama seseorang. Seseorang tidak dapat meraih kebenaran, atau mengetahui bagaimana cara mencarinya, jika ia tidak memiliki gagasan tentang arti dari ide-ide atau keyakinan-keyakinan. Sehingga, bagi Pierce, teori makna, yang dengannya kita menjadi tahu tentang segala sesuatu yang diperlukan untuk membuat ide-ide kita menjadi jelas, merupakan bagian penting dari logika investigasi. (h. 48-9)

Berbeda dengan kriteria tradisional, metode pragmatis Pierce untuk menjelaskan makna ide-ide menuntut seseorang untuk tidak berpaling pada konten-konten pikiran yang subyektif dan introspektif, tetapi pada operasi-operasi, tindakan-tindakan, perfoma-perfoma, kegunaan-kegunaan, dan observasi-observasi yang dilakukan dan dapat dicapai secara terbuka. Kesemuanya harus terpapar untuk bisa direplikasi oleh komunitas peneliti. Bukan pengalaman ‘saya’, tulis Pierce, tetapi pengalaman ‘kita’lah yang harus dipikirkan. (h.50)

Harus dicatat, bahwa bagi Pierce, penentuan arti dari ide-ide (konsep-konsep) adalah hal yang dilakukan dalam konteks memeriksa perannya sebagai bagian dari keya­kinan. Seseorang tidak dapat menentukan arti suatu ide (konsep) secara terisolasi, tetapi sebagai bagian pernyataan keyakinanlah, ide (konsep) dimaknai. Pada satu sisi, dengan demikian, ketika Pierce memeriksa ‘bagaimana membuat ide kita jelas’ dia pada saat yang sama menyarankan bagaimana kita membuat jelas apa arti dari keyakinan kita. (h. 50)

Klarifikasi ide-ide untuk menentukan artinya, tidaklah ekuivalen dengan menentukan kebenaran atau kesalahan (truth or falsity) dari keyakinan yang ide-ide merupakan bagiannya. Kebenaran atau kesalahan sebuah keyakinan merupakan masalah evaluasi setelah kita selesai menentukan maknanya. Meskipun salah, keyakinan tetap memiliki makna. Ide-ide bisa jelas maknanya tanpa harus menjadi benar. (h. 50)

Karena keyakinan merupakan kebiasaan pikiran, sesuatu yang membawa kita untuk melakukan tipe tindakan tertentu dalam situasi relevan, makna keyakinan terutama berkaitan dengan masalah apa tindakan-tindakan spesifik yang disarankan suatu keyakinan tertentu dan apa efek-efek tertentu yang masuk akal yang akan ditemukan dalam pengalaman dalam hubungannya dengan penggunaan sebuah konsep atau serang­kaian konsep. Poin penting ini merupakan inti (core) dari teori makna pragmatis Pierce. (h.51)

Aspek penting lain yang harus diingat adalah teori makna pragmatis hanya berkaitan dengan klarifikasi konsep-konsep intelektual yang muncul dalam pernyataan keyakinan. Konsep intelektual harus secara radikal harus dibedakan dari sensasi atau perasaan murni jenis apapun. Sebuah konsep adalah bersifat umum. Konsep melibatkan pemakaian suatu kapasitas abstraksi, dan melibatkan suatu kekuatan pemikiran, pengertian, dan nalar manusia yang khusus. (h. 53)

Sebuah konsep adalah tanda umum atau ekspresi (dalam klasifikasi umumnya tentang tanda, Pierce menyebutnya sebagai sebuah ‘simbol’). Menyebutnya ‘umum’ menandakan bahwa maknanya bisa dinyatakan sebagai sebuah kaidah (rule) atau hukum (law), atau seperti yang sering dinyatakan oleh Pierce, sebagai sebuah kebiasaan atau regularitas. Bentuk logika untuk menyatakan sebuah kaidah, hukum, atau kebiasaan adalah dengan menggunakan sebuah pernyataan kondisional: “Kapanpun … maka … atau “Jika … maka …”. (h. 55)

Terdapat sebuah koneksi yang penting dan intim antara teori Pierce tentang kebenaran keyakinan dengan teori makna konsep pragmatisnya. Karena setiap keyakinan melibatkan penggunaan konsep-konsep umum, makna dari konsep-konsep ini mensyaratkan seseorang untuk melihat konsekuensi-konsekuensi praktis atau efek-efek masuk akal yang diharapkan, yang diprediksikan. Metode investigasi untuk menentukan kebenaran keyakinan, namun demikian, melibatkan tuntutan terhadap konsekuensi-konsekuensi tindakan eksperimental atas keyakinan yang bisa diverifikasi tersebut. Hanya jika konsekuensi-konsekuensi praktis atau efek-efek masuk akal yang diharapkan tersebut ditemukan terjadi dalam pengalaman aktual, maka seseorang memiliki suatu dasar untuk menerima keyakinan sebagai benar. (h. 56)

Pemahaman terhadap maka konsep umum dalam keyakinan, dengan demikian, merupakan langkah awal yang diperlukan untuk melakukan investigasi untuk menguji kebenaran keyakinan. Hanya jika hasil-hasil yang diharapkan ditemukan maka terdapat bukti nyata untuk mengatakan bahwa konsep yang digunakan memberi deskripsi yang benar atas kasus yang diamati, yakni mendiskripsikan properti objek yang padanya konsep diaplikasikan. (h. 56)

Perlu dicatat bahwa Pierce menggunakan istilah ‘sains’ dan ‘kebenaran’ secara lebih luas dan lebih sempit. Dalam penggunaan yang lebih sempit istilah sains dibatasi pada sains empiris, dan kebenaran adalah yang dicari sebagai keluaran investigasi dalam sains ini. (h. 57)

Pada penggunaan yang lebih luas, istilah ‘sains’ tidak hanya merujuk ke sains empiris, tetapi meliputi matematika, dan bahkan filsafat yang telah mengalami reformasi (reformed philosophy) juga termasuk di dalamnya. (h. 57)

Di bidang metafisik, meski di satu sisi, Pierce menganggap hampir semua proposisinya sebagai tidak bermakna dan ingauan, namun di sisi lain dia membayangkan bahwa jika diinvestigasi secara baik, menjadi ilmiah (scientific). Untuk menjadi ilmiah pertama akan diperlukan sebuah pencarian kolektif dari banyak peneliti (membangun sistem pemikiran yang dilakukan oleh para ‘nomaden intelektual’, bukan pencarian privat). Kedua, perlu mendasarkan temuan-temuannya pada fakta-fakta pengalaman teramati, tetapi dari jenis yang paling mendasar, umum dan tersebar – apa, yang dapat dikatakan, ada di depan mata setiap orang. Penelitian metafisik tidak perlu menggunakan instrumen-instrumen khusus, ataupun teknik observasi data terspesialisasi seperti yang diperoleh dalam sains-sains fisika yang telah maju. Pierce menyumbangkan banyak sekali tenaga untuk membuat sketsa dan mengerjakan, dalam beberapa bidang, apa yang dia anggap sebagai karakter dari sebuah metafisik yang ilmiah. Sebagai contoh, dia merancang berbagai doktrin mengenai konsep-konsep keberlanjutan (‘synechism’) dan perubahan (‘tychism’). Pierce juga membuat kontribusi terhadap sains fenomenologi (‘phaneroscopy’). Dia mengerjakan dan mengerjakan ulang sebuah teori dasar kategori-kategori metafisis yang disebutkan sebagai kepertamaan (Firstness), keperduaan (Secondness) dan kepertigaan (Thirdness). Semua topik tersebut dan banyak topik yang lain semuanya ditujukan untuk memula-tata sebuah disiplin metafisik ilmiah, walaupun  Pierce tidak pernah sampai pada formulasi komprehensif dan sistematik yang final. Membaca semua karya Pierce di bidang metafisika, seorang pembaca yang kritis barangkali akan mengajukan pertanyaan, siapa sebetulnya yang lebih ‘ilmiah’ dan kurang ‘spekulatif, Pierce atau mereka yang direndahkan oleh Pierce!

Pustaka

Minutz, Milton K., 1981, “Belief, Inquiry, and Meaning”, Contemporery Analytic Philosophy, USA: Macmillan Publishing Co., Inc.

Perkembangan Ilmu Ekonomi Islam

Kelahiran

Kelahiran Ilmu Ekonomi Islam (Islamic Economics) hingga perkembangannya saat ini menunjukkan fenomena yang agak aneh. Capra (1986) mencatat bahwa kelahiran Ilmu Ekonomi Islam dimulai di pertengahan 1930-an, ketika beberapa ulama – yang tidak memiliki pendidikan formal ilmu ekonomi, tetapi memiliki wawasan yang jernih terhadap permasalahan-permasalahan sosio-ekonomi abad tersebut dan pendekatan Islam terhadapnya – tampil ke depan, menceburkan diri dalam pembahasan masalah bunga atau harga kapital (interest) yang menjadi ruh dari Ilmu Ekonomi Konvesional. Berbeda dengan modernis dan apologis, mereka secara tegas mengharamkan bunga, dan menghimbau para ekonom dan bankir memberikan alternatif yang menyeluruh. Himbauan ini disambut, dan secara perlahan pembahasan Ilmu Ekonomi Islam dan Konsep Lembaga Keuangan Islam menjadi marak.

Menariknya, khususnya Ilmu Ekonomi Islam, justru dikembangkan tetap dengan sistematika, model-model, dan alat-alat analisis yang biasa dipakai dalam Ekonomi Konvensional. Hal ini disebabkan Ilmu Ekonomi Konvensional pada dasarnya adalah ilmu yang menjelaskan perilaku ekonomi manusia, berdasarkan asumsi-asumsi tertentu. Jika kemudian asumsi-asumsi ini diubah, maka sistematika, model-model, dan alat-alat analisis tetap bisa digunakan untuk menjelaskan perilaku ekonomi yang tentunya juga mengalami perubahan.

Berkenaan dengan penggantian asumsi-asumsi Ilmu Ekonomi Konvensional sendiri, para pakar Ilmu Ekonomi Islam, tidak serta merta menolak semuanya. Zarqa (2003), misalnya, dalam konteks ini membuat panduan berkenaan dengan penggantian asumsi-asumsi tersebut yang dipresentasikan dalam Gambar 1. Dari diagram tersebut terlihat dengan jelas bahwa Ilmu Ekonomi Islam dibangun tidak dengan menolak seluruh asumsi yang dimiliki oleh Ilmu Ekonomi Konvensional. Asumsi-asumsi yang dibuang adalah pada poin 5 dan 6 saja.

Assumption

Gambar 1. Hubungan Antara Islam dan Ilmu Ekonomi Konvensional

Menariknya, sebelumnya Zarqa juga menguraikan konsep elemen sains yang dia kategorikan menjadi first essential element, second essential element, dan third essential element, yang mengingatkan pada konsep Pierce di wilayah metafisika yakni firstness, secondness, dan thirdness.

Buku-buku awal Ilmu Ekonomi Islam, misalnya Studies in Islamic Economics (Ahmad, 1980) yang merupakan kumpulan tulisan para pakar Ilmu Ekonomi Islam pada Konferensi Internasional Ilmu Ekonomi Islam Pertama di Mekah 1976, atau tulisan dari pakar tunggal seperti Contribution to Islamic Economic Theory (Choudhury, 1986) dan Toward an Interest Free Islamic Economic System: A Theoritical Analysis of Prohibiting Debt Financing (Khan, 1985), menunjukkan bukti bahwa Ilmu Ekonomi Islam sangat terbuka terhadap sistematika, model-model, dan alat-alat analisis Ilmu Ekonomi Konvensional. Ketiga buku ini, terutama buku Choudhury dan Khan tidak mungkin dipahami kecuali dengan menggunakan materi Matematika dan Ilmu Ekonomi Mikro konvensional tingkat menengah atau lanjut. Buku-buku Capra dan Mannan, hampir semuanya membahas Ilmu Ekonomi Islam tanpa mengabaikan sistematika dan perkembangan yang terjadi dalam Ilmu Ekonomi Konvensional di masanya. Pada tahap ini, anehnya, Ilmu Ekonomi Islam justru dianggap terlalu kaku (strict).

Perlu ditegaskan di sini bahwa Ilmu Ekonomi Islam bukanlah ilmu yang sekedar membahas fikih muamalah, dalam arti luas atau sempit. Fikih muamalah hanya merupakan bagian kecil dari subyek bahas Ilmu Ekonomi Islam, dan biasanya diletakkan di aspek pemformulasian asumsi-asumsi normatif atau deskriptif dari Ilmu Ekonomi Islam. Seperti tergambar di muka tugas Ilmu Ekonomi Islam, pada hakekatnya adalah untuk menjelaskan perilaku ekonomi – makro atau mikro – ketika asumsi-asumsi telah diambil, justru dengan sistematika, model-model dan alat-alat analisis yang lazim digunakan dalam Ilmu Ekonomi Konvensional.

Penilaian terlalu kaku untuk Ilmu Ekonomi Islam awal ini barangkali muncul karena pilihan fikih muamalah-nya dinilai menggunakan pendekatan klasik atau ortodoks, yakni tekstual dan kurang memperhatikan perkembangan keadaan.

Sekedar sebagai sebuah ikhtisar barangkali Ilmu  Ekonomi Islam bisa didefinisikan sebagai sebuah ilmu sosial yang mempelajari masalah ekonomi dalam masyarakat yang terilhami atau terikat oleh nilai-nilai Islam (Mannan,1980).

Masalah ekonomi di semua masyarakat pada dasarnya sama, yakni bagaimana mendayagunakan sumberdaya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas (Mankiw, 2012), yang melahirkan tiga problem dasar, what, how dan for whom, yang termanifestasi dalam tiga kegiatan manusia, produksi, konsumsi dan distribusi. Kriteria pengukur keberhasilannya, pada hakekatnya juga sama, melibatkan setidaknya empat kriteria, efisiensi, pemerataan, pertumbuhan, dan stabilitas (Case et.al., 2014).

Ekonomi Islam, dengan demikian, berbeda hanya pada paradigmanya. Paradigma adalah sebuah model atau framework bagi pengamatan dan pemahaman, yang membentuk apa yang (mesti) kita amati dan bagaimana kita (mesti) memahami apa yang kita amati (Babbie, 2014). Sebagai sebuah ilmu tentu saja Ilmu Ekonomi Islam sudah semestinya bersifat normatif dan khas.

Perkembangan Akhir

Setelah masa-masa Ilmu Ekonomi Islam yang terbuka tetapi tetap strict, dan tentunya normatif. Perkembangan akhir Ilmu Ekonomi Islam tampaknya lebih dituntut di sisi praktek, dan pintu masuk paling feasible di aspek ini adalah pendirian Bank dan Lembaga Keuangan Syari’ah, karena bisa dilakukan tanpa harus mengubah sistem perekonomian secara makro. Subbahasan Perbankan dan Keuangan Islam (Islamic Banking and Finance) menjadi lebih dominan diberi perhatian dan dikembangkan. Menariknya, pembahasan topik ini justru menjadi lebih berorientasi ke fikih muamalah, yang berarti lebih sempit.

Keharusan untuk survive sebagai lembaga usaha, yang hanya bisa dicapai jika ada surplus ekonomi (profit) berkelanjutan dan bertahan dalam persaingan usaha – orientasi bisnis, mendorong kepada pemilihan fikih muamalah yang terbuka sekali terhadap perkembangan keadaan. Orientasinya terbaca sebagai bagaimana beragam transaksi yang ada dalam Perbankan dan Lembaga Keuangan Konvensional menjadi memiliki padanan yang syar’i. Meski di tataran normatif pengkajian Perbankan dan Keuangan Islam sering masih bersifat strict, karena merujuk konsep-konsep Ilmu Ekonomi Islam tahap awal, tetapi dalam praktek sering tidak seperti itu. Capra (1986), misalnya, menyatakan perbankan Islam mestinya dominan pada equity financing (musyarakah dan mudhorabah berbasis profit-loss sharing) bukan debt financing, tetapi praktek yang dominan adalah debt-financing yang diubah menjadi akad jual beli kredit (ba’i al mu’ajjal) baik murabahah maupun musawwamah.

Berbeda dengan perkembangan Ilmu Ekonomi Islam di awal, yang sebetulnya lebih terbuka dan luas, perkembangan Ilmu Ekonomi Islam terkini justru menyempit, dominan ke fikih muamalah, meski pendekatan fikihnya lebih terbuka. Anehnya, atau barangkali justru keniscayaan, penilaian yang sering muncul di masyarakat adalah bahwa praktek Perbankan dan Lembaga Keuangan Islam sama saja dengan praktek Perbankan dan Lembaga Keuangan Islam. Bahkan, penilaian ini kadang menjalar ke induknya, yakni Ilmu Ekonomi Islam, yang kemudian dinilai hanya sekedar Ilmu Ekonomi Konvensional yang dibumbui dengan ayat dan hadist, tetapi tidak mengubah esensinya. Menurut ilmu Manajemen Strategis dan Manajemen Pemasaran, praktek Perbankan dan Lembaga Keuangan Islam justru kehilangan unique selling factor-nya. Differentiate or Die (Trout dan Rivkin, 2001), judul buku yang mungkin tepat untuk menggambarkan seriusnya persoalan ini.

Pustaka

Ahmad, Khurshid (ed.), 1980. Studies in Islamic Economics, U.K: The Islamic Foundation

Babbie, Earl, 2014. The Basic of Social Research, 6th edition,  Canada: Wadsworth Cengage Learning

Capra, Muhammad Umer, 1986. Toward a Just Monetary System: a Discussion of Money, Banking and Monetary Policy in the Light of Islamic Teachings, UK: The Islamic Foundation

Case, Karl E., Ray C. Fair, and Sharon M. Oster, 2014. Principles of Microeconomics, 11th edition, England: Pearson Education Limited

Choudhury, Masadul Alam, 1986., Contribution to Islamic Economic Theory: A Study in Social Economics, USA: Palgrave Macmillan

Khan, Waqar Masood, 1985. Toward an Interest-Free Islamic Economic System: a Theoritical Analysis of prohibiting Debt Financing, UK: The Islamic Foundation

Mankiw, N. Gregory, 2012, Principles of Macroeconomics, 6th edition, USA: South-Western Cengage Learning

Mannan, M. A., 1980. Islamic Economics Theory and Practice: A Comparative Study, India: Idarah-I Adabiya-I Delli

 

Trout, Jack, dan Steve Rivkin, 2001. Differentiate or Die: Bertahan Hidup di Era Kompetisi yang Mematikan, pent. Alvira, ed. Nurcahyo Mahanani, Jakarta: Erlangga

Zarqa, Muhammad Anas, 2003. “Islamization of Economics: The Concept and Methodology”, J.KAU: Islamic Econ., Vol 16, No. 1, pp. 3-42.

MEA DAN KETENAGAKERJAAN INDONESIA DAN SURAKARTA

Prolog

Bagaimanapun sejarahnya, ASEAN Economic Community (AEC), telah disepakati untuk direalisir 31 Desember 2015. Semua negara anggota ASEAN, dengan demikian, memiliki waktu kurang dari dua tahun untuk menfinalkan persiapannya menghadapi komunitas yang di Indonesia lebih sering disebut sebagai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Target yang ingin dicapai dengan MEA adalah: (i) menciptakan Kawasan Ekonomi ASEAN yang stabil, makmur dan memiliki daya saing tinggi yang ditandai dengan arus lalu lintas barang, jasa-jasa dan investasi yang bebas, arus lalu lintas modal yang lebih bebas, pembangunan ekonomi yang merata serta mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi, (ii) mempercepat liberalisasi perdagangan di bidang jasa, dan (iii) meningkatkan pergerakan tenaga professional dan jasa lainnya secara bebas di kawasan ASEAN.

Kalangan birokrat tampaknya menggenggam optimisme yang cukup tinggi berkenaan soal kesiapan Indonesia dalam memasuki konsekusensi persaingan bisnis dalam MEA. Di awal 2014, misalnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan bahwa berdasarkan perhitungan Score Card, kesiapan Indonesia sudah mencapai 80%, yang ini berarti di atas rata-rata skor kesiapan semua negara anggota ASEAN, yakni 78%. Meski begitu, Menko juga menyatakan pemerintah tidak akan membuka semua sektor jika dinilai belum siap.

Para pelaku sektor riil, dalam banyak pemberitaan media massa, umumnya memperlihatkan kegelisahan di soal kesiapan dan proses menuju kesiapan persaingan bisnis di akhir 2015. Pelaku sektor riil, yang faktanya sebenarnya didominasi oleh KUMKM, mayoritas merasa belum siap, dan juga sering merasa terberatkan oleh proses standardisasi kualitas produk dan proses produksi dalam rangka memenuhi kesiapan persaingan bisnis tersebut.

Pasar Bebas Bukan Pasar Persaingan Sempurna (PPS)

Perhatikan dengan seksama ketiga target MEA pada bagian prolog di atas, setidaknya ada dua kata kunci yang mesti kita kritisi: (1) arus lalu lintas barang, jasa-jasa, investasi, dan modal, dan tenaga kerja, yang lebih bebas dan (2) liberalisasi perdagangan. Kedua kata kunci ini, secara mengherankan, seringkali dianggap sebagai manifestasi dari PPS, yang dalam khasanah pembahasan Ilmu Ekonomi konvesional (maupun yang Syariah sekalipun), dianggap sebagai pasar ideal, karena di dalamnya diyakini terjadi keadilan ekonomi, yang tanpa campur tangan (kebijakan?) siapapun. Tetapi, benarkah demikian?

Terlebih dahulu, kita perlu membahas apa yang dimaksudkan dengan keadilan ekonomi dalam PPS. Keadilan ekonomi dalam PPS biasa digambarkan sebagai kondisi di mana MC = MR = P = MU. Pada kondisi ini, sesuai dengan pengertian MC, MR, P, dan MU, produsen mendapatkan tambahan pendapatan sebesar P karena menambah barangnya sebanyak satu unit (MR), yang tambahan ini sama persis dengan tambahan total biaya yang dikeluarkan karena menambah produksi barang sebesar satu unit (MC). Sementara konsumen juga hanya terkena harga sebesar P, yang sama dengan biaya tambahan yang dikeluarkan oleh produsen untuk menambah produksinya sebesar satu unit (MC). P yang harus dibayar konsumen sendiri adalah sama dengan tambahan utilitas yang dinikmati konsumen karena menambah konsumsi barangnya sebesar satu unit (MU).

Kondisi MC = MR = P = MU, secara lebih singkat bisa disajikan sebagai MC = P = MU. Pada kondisi ini, produsen akan memperoleh profit maksimum (MR = MC), dan konsumen akan mendapatkan kepuasan maksimum (MU = P). Meskipun produsen mendapatkan keuntungan maksimum, namun keuntungan ini disebut sebagai keuntungan normal.

PPS, namun demikian, hanya bisa tercapai apabila dipenuhi asumsi-asumsi tertentu, yakni (lihat misalnya Mankiw, 2012):

  • Terdapat banyak pembeli dan banyak penjual (produsen) di dalam pasar, sehingga kedua belah pihak hanya menjadi price taker, yang tidak bisa mempengaruh harga.
  • Barang-barang yang ditawarkan oleh berbagai penjual (produsen) sebagian besarnya sama (bersifat subtitusi), sehingga jika misalnya seorang produsen menaikkan harga, maka konsumen dengan leluasa bisa berganti membeli dari produsen lain.
  • Perusahaan-perusahaan bisa secara bebas masuk ataupun keluar dari pasar.

Ketiga asumsi di atas memiliki implikasi pada asumsi ketersediaan informasi pasar yang sempurna, yang bisa diakses secara bebas oleh semua pihak.

Keempat asumsi di atas tentu saja hampir tidak pernah tercapai secara sepenuhnya di dunia nyata, tetapi setidaknya memberi panduan bahwa PPS akan semakin bisa terujud apabila kekuatan-kekuatan pelaku ekonomi RELATIF SAMA.

Panduan inilah yang kemudian melahirkan setidaknya dua disiplin keilmuan baru di bidang ekonomi, yakni Public Economics dan Antitrust Economics. Kedua disiplin keilmuan ini memiliki tujuan yang sama, yaitu bagaimana pasar mesti diregulasi sehingga strukturnya cenderung mendekati kondisi PPS, atau apabila PPS tidak bisa dicapai (kasus ekstremnya adalah pasar monopoli), maka tingkat harga dan tingkat output yang terjadi di pasar tidak jauh dari kondisi PPS.

Setelah kita memahami apa dan bagaimana PPS di muka, pertanyaannya kemudian adalah: benarkah integrasi-integrasi ekonomi semacam MEA, yang kini marak terjadi itu, memang berimplikasi pada terpenuhinya asumsi PPS?

Maurice Allais seorang ekonom Perancis, pemenang nobel 1988 bidang ekonomi karena karya rintisannya dalam teori pasar dan efisiensi penggunaan sumber daya (http://en.m.wikipedia.org/wiki/Maurice_Allais, diakses Rabu, 3 Juni 2015, 9:18PM), memperingatkan (Ormerod, 1998):

“Tidak betul bahwa perdagangan bebas pasti menguntungkan semua pihak. Perdagangan bebas hanya akan menguntungkan dalam keadaaan yang sangat khusus, yakni jika tingkat perekonomian pihak yang terlibat kurang-lebih sama.”

Sangat jelas, dengan demikian, bahwa pasar bebas, perdagangan bebas, liberalisasi perdagangan, atau jargon-jargon sejenis, tidak selalu merupakan manifestasi dari PPS, sebab PPS hanya terjadi, sekali lagi, apabila kekuatan-kekuatan pelaku ekonomi RELATIF SAMA.

MEA dan Ketenagakerjaan Indonesia

Ada fakta menarik, yang rasanya harus dicermati ketika kita ingin membahas dampak MEA, pada bidang ekonomi yang manapun di Indonesia, yakni komposisi jumlah penduduk negara ASEAN. Berdasarkan estimasi Juli 2013, Indonesia yang berpenduduk 251,2 juta orang, berada di peringkat tertinggi dengan porsi penduduk 40%, disusul oleh Filipina, Vietnam, dan Thailand, yang masing-masing memiliki porsi, 17%, 15% dan 11%. Negara-negara lain, semuanya memiliki porsi di bawah 10%, Myarmar (Burma) 9%, Malaysia 5%, Kamboja 2%, Laos dan Singapura masing-masing 1%, dan Brunei 0%.

Melihat komposisi yang semacam itu, muncul pertanyaan yang menggelitik, “Dalam MEA, posisi Indonesia di mata negara ASEAN lain, sebenarnya lebih berpotensi sebagai apa, KONSUMEN (Pasar) atau PRODUSEN?” Upaya menjawab pertanyaan ini, tentu saja bisa melahirkan berbagai analisis dan analisis lanjutan yang menarik.

Jika kita amati lebih mendalam, berdasarkan data BPS, pada Pebruari 2014, angkatan kerja di Indonesia berjumlah 125,3 juta orang. Dari sejumlah itu, yang terserap ke pasar kerja adalah 118,2 juta orang. Angka pengangguran terbuka, dengan demikian, adalah sebesar 7,2 juta orang atau 5,7%.

Komposisi angkatan kerja Indonesia berdasarkan pendidikan adalah: 45,8% SD ke bawah, 18,2% SMP, 16,6% SMA, 9,2% SMK, 2,7% Diploma I/II/III, dan 7,4% Universitas. Komposisi mereka yang bekerja berdasarkan pendidikan adalah: 46,8% SD ke bawah, 17,8% SMP, 16% SMA, 9,2% SMK, 2,7% Diploma I/II/III, dan 7,5% Universitas. Komposisi mereka yang menganggur berdasarkan pendidikan adalah: 29,7% SD ke bawah, 23,7% SMP, 26,5% SMA, 11,9% SMK, 2,73% Diploma I/II/III, dan 5,6% Universitas. Dilihat dari jumlah angkatan kerja untuk masing-masing strata pendidikan, angka penganggurannya adalah: 3,7% SD ke bawah, 7,5% SMP, 9,1% SMA, 7,2% SMK, 5,9% Diploma I/II/III, dan 4,3% Universitas.

Data di atas memperlihatkan bahwa angkatan kerja dus pekerja di Indonesia ternyata didominasi oleh tenaga kerja berpendidikan rendah dan menengah. Menariknya, dalam MEA, berkenaan dengan ketenagakerjaan, pembahasan hanya menyinggung soal pengaturan tenaga kerja terampil (skilled labor).

Meskipun definisi tenaga kerja terampil tidak secara jelas terdapat pada AEC Blueprint, namun secara umum tenaga kerja terampil didefinisikan sebagai pekerja yang mempunyai ketrampilan atau keahlian khusus, pengetahuan, atau kemampuan di bidangnya, yang bisa berasal dari lulusan perguruan tinggi, akademisi, sekolah teknik, atau dari pengalaman kerja.

MEA, dari gambaran di atas, tampaknya akan menciptakan tantangan yang cukup berat, bagi sektor ketenagakerjaan di Indonesia, terutama dalam aspek peningkatan jumlah tenaga kerja terampil dalam angkatan kerja.

MEA dan Ketenagakerjaan Surakarta

Kondisi ketenagakerjaan Surakarta, tampaknya tidak akan jauh dari gambaran kondisi ketenagakerjaan Indonesia, jika dilihat dari komposisi penduduknya berdasarnya pendidikan. Berdasar data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Pemerintah Kota Surakarta tahun 2012, proporsi penduduk berpendidikan SLTA/Sederajat ke bawah tercatat 86%. Artinya, penduduk yang berpendidikan diploma dan universitas hanya berkisar 14%.

Epilog

Jika ditanya, siapkah sektor ketenagakerjaan Indonesia dan Surakarta menghadapi MEA? Jawaban awal yang mestinya dipilih adalah TIDAK SIAP.

Meskipun demikian, mengingat kondisi upah tenaga kerja terampil di Indonesia yang lebih rendah, dalam jangka pendek ancaman masuknya tenaga kerja terampil asing yang masif ke Indonesia tampaknya kurang mengkuatirnya. Dalam jangka panjang persoalannya tentu saja bisa lain, karena dengan investasi asing langsung, bisa saja perusahaan-perusahaan asing berdiri di Indonesia dengan standar gaji yang lebih tinggi bagi tenaga kerja terampil. Meski kondisi ini bisa menguntungkan bagi angkatan kerja terampil Indonesia, tetapi semuanya tentu saja bergantung pada dapat tidaknya mereka memenuhi standar kompetensi yang akan dicanangkan dalam rangka implementasi MEA.

Dalam jangka pendek dan jangka panjang, upah tenaga kerja tidak terampil tampaknya akan stagnan, sebab tenaga kerja jenis ini memang sering dijadikan “tumbal” untuk menekan ongkos produksi, untuk menciptakan semacam keunggulan absolut.

Jika dipaksa untuk siap, tampaknya harus ada perubahan kebijakan yang cukup radikal dalam aspek peningkatan jumlah tenaga kerja terampil dalam angkatan kerja. Dunia pendidikan, tentu saja, akan menjadi objek sekaligus subyek penting dari kebijakan tersebut.

Pustaka

Anonim, 2015, Maurice Allais, http://en.m.wikipedia.org/wiki/Maurice_Allais, diakses Rabu, 3 Juni 2015, 9:18PM

Mankiw, N. Gregory, 2012, Principles of Microeconomics, 6th Edition, USA: South-Western Cengage Learning.

Ormerod, Paul, 1998, Matinya Ilmu Ekonomi, Jilid 1, Cetakan ke 3, Penyadur Parakitri T. Simbolon, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

 

Kutipan Dari Para Evolusionist

Lack of Identifiable Phylogeny
“It is, however, very difficult to establish the precise lines of descent, termed phylogenies, for most organisms.” (Ayala, F. J. and Valentine J. W., Evolving: The Theory and Process of Organic Evolution, 1978, p. 230)

“Undeniably, the fossil record has provided disappointingly few gradual series. The origins of many groups are still not documented at all.” (Futuyma, D., Science on Trial: The Case for Evolution, 1983, p. 190-191)

“There is still a tremendous problem with the sudden diversification of multi-cellular life. There is no question about that. That’s a real phenomenon.” (Niles Eldredge, quoted in Darwin’s Enigma: Fossils and Other Problems by Luther D. Sunderland, Master Book Publishers, Santee, California, 1988, p. 45)

“Whatever ideas authorities may have on the subject, the lungfishes, like every other major group of fishes that I know, have their origins firmly based in nothing.” (Quoted in W. R. Bird, _The Origin of Species Revisited_ [Nashville: Regency, 1991; originally published by Philosophical Library, 1987], 1:62-63)

“The main problem with such phyletic gradualism is that the fossil record provides so little evidence for it. Very rarely can we trace the gradual transformation of one entire species into another through a finely graded sequence of intermediary forms.” (Gould, S.J. Luria, S.E. & Singer, S., A View of Life, 1981, p. 641)

“It should come as no surprise that it would be extremely difficult to find a specific fossil species that is both intermediate in morphology between two other taxa and is also in the appropriate stratigraphic position.” (Cracraft, J., “Systematics, Comparative Biology, and the Case Against Creationism,” 1983, p. 180)

“Most families, orders, classes, and phyla appear rather suddenly in the fossil record, often without anatomically intermediate forms smoothly interlinking evolutionarily derived descendant taxa with their presumed ancestors.” (Eldredge, N., 1989, Macro-Evolutionary Dynamics: Species, Niches, and Adaptive Peaks, McGraw-Hill Publishing Company, New York, p. 22)

“Species that were once thought to have turned into others have been found to overlap in time with these alleged descendants. In fact, the fossil record does not convincingly document a single transition from one species to another.” (Stanley, S.M., The New Evolutionary Timetable: Fossils, Genes, and the Origin of Species, 1981, p. 95)

“Many fossils have been collected since 1859, tons of them, yet the impact they have had on our understanding of the relationships between living organisms is barely perceptible. …In fact, I do not think it unfair to say that fossils, or at least the traditional interpretation of fossils, have clouded rather than clarified our attempts to reconstruct phylogeny.” (Fortey, P. L., “Neontological Analysis Versus Palaeontological Stores,” 1982, p. 120-121)

“Indeed, it is the chief frustration of the fossil record that we do not have empirical evidence for sustained trends in the evolution of most complex morphological adaptations.” (Gould, Stephen J. and Eldredge, Niles, “Species Selection: Its Range and Power,” 1988, p. 19)

“The paleontological data is consistent with the view that all of the currently recognized phyla had evolved by about 525 million years ago. Despite half a billion years of evolutionary exploration generated in Cambrian time, no new phylum level designs have appeared since then.” (“Developmental Evolution of Metazoan Body plans: The Fossil Evidence,” Valentine, Erwin, and Jablonski, Developmental Biology 173, Article No. 0033, 1996, p. 376)

“Many ‘trends’ singled out by evolutionary biologists are ex post facto rendering of phylogenetic history: biologists may simply pick out species at different points in geological time that seem to fit on some line of directional modification through time. Many trends, in other words, may exist more in the minds of the analysts than in phylogenetic history. This is particularly so in situations, especially common prior to about 1970, in which analysis of the phylogenetic relationships among species was incompletely or poorly done.” (Eldredge, Niles, Macro-Evolutionary Dynamics: Species, Niches, and Adaptive Peaks, 1989, p. 134)

“The Eldredge-Gould concept of punctuated equilibria has gained wide acceptance among paleontologists. It attempts to account for the following paradox: Within continuously sampled lineages, one rarely finds the gradual morphological trends predicted by Darwinian evolution; rather, change occurs with the sudden appearance of new, well-differentiated species. Eldredge and Gould equate such appearances with speciation, although the details of these events are not preserved. …The punctuated equilibrium model has been widely accepted, not because it has a compelling theoretical basis but because it appears to resolve a dilemma. Apart from the obvious sampling problems inherent to the observations that stimulated the model, and apart from its intrinsic circularity (one could argue that speciation can occur only when phyletic change is rapid, not vice versa), the model is more ad hoc explanation than theory, and it rests on shaky ground.” (Ricklefs, Robert E., “Paleontologists Confronting Macroevolution,” Science, vol. 199, 1978, p. 59)

“Few paleontologists have, I think ever supposed that fossils, by themselves, provide grounds for the conclusion that evolution has occurred. An examination of the work of those paleontologists who have been particularly concerned with the relationship between paleontology and evolutionary theory, for example that of G. G. Simpson and S. J. Gould, reveals a mindfulness of the fact that the record of evolution, like any other historical record, must be construed within a complex of particular and general preconceptions not the least of which is the hypothesis that evolution has occurred. …The fossil record doesn’t even provide any evidence in support of Darwinian theory except in the weak sense that the fossil record is compatible with it, just as it is compatible with other evolutionary theories, and revolutionary theories and special creationist theories and even historical theories.” (Kitts, David B., “Search for the Holy Transformation,” review of Evolution of Living Organisms, by Pierre-P. Grassé, Paleobiology, vol. 5, 1979, p. 353-354)

 Stasis and Sudden Appearance

“Paleontologists have paid an enormous price for Darwin’s argument. We fancy ourselves as the only true students of life’s history, yet to preserve our favored account of evolution by natural selection we view our data as so bad that we almost never see the very process we profess to study. …The history of most fossil species includes two features particularly inconsistent with gradualism: 1. Stasis. Most species exhibit no directional change during their tenure on earth. They appear in the fossil record looking much the same as when they disappear; morphological change I usually limited and directionless. 2. Sudden appearance. In any local area, a species does not arise gradually by the steady transformation of its ancestors; it appears all at once and ‘fully formed.'” (Gould, Stephen J. The Panda’s Thumb, 1980, p. 181-182)

“Paleontologists are traditionally famous (or infamous) for reconstructing whole animals from the debris of death. Mostly they cheat. …If any event in life’s history resembles man’s creation myths, it is this sudden diversification of marine life when multicellular organisms took over as the dominant actors in ecology and evolution. Baffling (and embarrassing) to Darwin, this event still dazzles us and stands as a major biological revolution on a par with the invention of self-replication and the origin of the eukaryotic cell. The animal phyla emerged out of the Precambrian mists with most of the attributes of their modern descendants.” (Bengtson, Stefan, “The Solution to a Jigsaw Puzzle,” Nature, vol. 345 (June 28, 1990), p. 765-766)

“Modern multicellular animals make their first uncontested appearance in the fossil record some 570 million years ago – and with a bang, not a protracted crescendo. This ‘Cambrian explosion’ marks the advent (at least into direct evidence) of virtually all major groups of modern animals – and all within the minuscule span, geologically speaking, of a few million years.” (Gould, Stephen J., Wonderful Life: The Burgess Shale and the Nature of History, 1989, p. 23-24)

“The fossil record had caused Darwin more grief than joy. Nothing distressed him more than the Cambrian explosion, the coincident appearance of almost all complex organic designs…” (Gould, Stephen J., The Panda’s Thumb, 1980, p. 238-239)

“The majority of major groups appear suddenly in the rocks, with virtually no evidence of transition from their ancestors.” (Futuyma, D., Science on Trial: The Case for Evolution, 1983, p. 82)

“Most families, orders, classes, and phyla appear rather suddenly in the fossil record, often without anatomically intermediate forms smoothly interlinking evolutionarily derived descendant taxa with their presumed ancestors.” (Eldredge, (Eldredge, Niles, Macro-Evolutionary Dynamics: Species, Niches, and Adaptive Peaks, 1989, p. 22)

“In spite of these examples, it remains true, as every paleontologist knows, that most new species, genera, and families, and that nearly all new categories above the level of families, appear in the record suddenly and are not led up to by known, gradual, completely continuous transitional sequences.” (Simpson, George Gaylord, The Major Features of Evolution, 1953, p. 360)

“The gaps in the record are real, however. The absence of any record of any important branching is quite phenomenal. Species are usually static, or nearly so, for long periods, species seldom and genera never show evolution into new species or genera but replacement or one by another, and change is more or less abrupt.” (Wesson, R., Beyond Natural Selection, 1991, p. 45)

“All through the fossil record, groups – both large and small – abruptly appear and disappear. …The earliest phase of rapid change usually is undiscovered, and must be inferred by comparison with its probable relatives.” (Newell, N. D., Creation and Evolution: Myth or Reality, 1984, p. 10)

“Paleontologists had long been aware of a seeming contradiction between Darwin’s postulate of gradualism…and the actual findings of paleontology. Following phyletic lines through time seemed to reveal only minimal gradual changes but no clear evidence for any change of a species into a different genus or for the gradual origin of an evolutionary novelty. Anything truly novel always seemed to appear quite abruptly in the fossil record.” (Mayr, E., Our Long Argument: Charles Darwin and the Genesis of Modern Evolutionary Thought, 1991, p. 138)

“The record certainly did not reveal gradual transformations of structure in the course of time. On the contrary, it showed that species generally remained constant throughout their history and were replaced quite suddenly by significantly different forms. New types or classes seemed to appear fully formed, with no sign of an evolutionary trend by which they could have emerged from an earlier type.” (Bowler, Evolution: The History of an Idea, 1984, p. 187)

“Instead of finding the gradual unfolding of life, what geologists of Darwin’s time, and geologists of the present day actually find is a highly uneven or jerky record; that is, species appear in the sequence very suddenly, show little or no change during their existence in the record, then abruptly go out of the record. and it is not always clear, in fact it’s rarely clear, that the descendants were actually better adapted than their predecessors. In other words, biological improvement is hard to find.” (Raup, David M., “Conflicts Between Darwin and Paleontology,” Bulletin, Field Museum of Natural History, vol. 50, 1979, p. 23)

“A major problem in proving the theory (of evolution) has been the fossil record; the imprints of vanished species preserved in the Earth’s geological formations. This record has never revealed traces of Darwin’s hypothetical intermediate variants instead species appear and disappear abruptly, and this anomaly has fueled the creationist argument that each species was created by God.” (Czarnecki, Mark, “The Revival of the Creationist Crusade”, MacLean’s, January 19, 1981, p. 56)

“Eldredge and Gould, by contrast, decided to take the record at face value. On this view, there is little evidence of modification within species, or of forms intermediate between species because neither generally occurred. A species forms and evolves almost instantaneously (on the geological timescale) and then remains virtually unchanged until it disappears, yielding its habitat to a new species.” (Smith, Peter J., “Evolution’s Most Worrisome Questions,” Review of Life Pulse by Niles Eldredge, New Scientist, 1987, p. 59)

“The principle problem is morphological stasis. A theory is only as good as its predictions, and conventional neo-Darwinism, which claims to be a comprehensive explanation of evolutionary process, has failed to predict the widespread long-term morphological stasis now recognized as one of the most striking aspects of the fossil record.” (Williamson, Peter G., “Morphological Stasis and Developmental Constraint: Real Problems for Neo-Darwinism,” Nature, Vol. 294, 19 November 1981, p. 214)

“It is a simple ineluctable truth that virtually all members of a biota remain basically stable, with minor fluctuations, throughout their duration…” (Eldredge, Niles, The Pattern of Evolution, 1998, p. 157)

“But fossil species remain unchanged throughout most of their history and the record fails to contain a single example of a significant transition.” (Woodroff, D.S., Science, vol. 208, 1980, p. 716)

“We have long known about stasis and abrupt appearance, but have chosen to fob it off upon an imperfect fossil record.” (Gould, Stephen J., “The Paradox of the First Tier: An Agenda for Paleobiology,” Paleobiology, 1985, p. 7)

“Paleontologists ever since Darwin have been searching (largely in vain) for the sequences of insensibly graded series of fossils that would stand as examples of the sort of wholesale transformation of species that Darwin envisioned as the natural product of the evolutionary process. Few saw any reason to demur – though it is a startling fact that …most species remain recognizably themselves, virtually unchanged throughout their occurrence in geological sediments of various ages.” (Eldredge, Niles, “Progress in Evolution?” New Scientist, vol. 110, 1986, p. 55)

“In other words, when the assumed evolutionary processes did not match the pattern of fossils that they were supposed to have generated, the pattern was judged to be ‘wrong.’ A circular argument arises: interpret the fossil record in terms of a particular theory of evolution, inspect the interpretation, and note that it confirms the theory. Well, it would, wouldn’t it? …As is now well known, most fossil species appear instantaneously in the record, persist for some millions of years virtually unchanged, only to disappear abruptly – the ‘punctuated equilibrium’ pattern of Eldredge and Gould.” (Kemp, Tom S., “A Fresh Look at the Fossil Record,” New Scientist, vol. 108, 1985, p. 66-67)

“The old Darwinian view of evolution as a ladder of more and more efficient forms leading up to the present is not borne out by the evidence. Most changes are random rather than systematic modifications, until species drop out. There is no sign of directed order here. Trends do occur in many lines, but they are not the rule.” (Newell, N. D., “Systematics and Evolution,” 1984, p. 10)

“Well-represented species are usually stable throughout their temporal range, or alter so little and in such superficial ways (usually in size alone), that an extrapolation of observed change into longer periods of geological time could not possibly yield the extensive modifications that mark general pathways of evolution in larger groups. Most of the time, when the evidence is best, nothing much happens to most species.” (Gould Stephen J., “Ten Thousand Acts of Kindness,” Natural History, 1988, p. 14)

“Stasis, or nonchange, of most fossil species during their lengthy geological lifespans was tacitly acknowledged by all paleontologists, but almost never studied explicitly because prevailing theory treated stasis as uninteresting nonevidence for nonevolution. …The overwhelming prevalence of stasis became an embarrassing feature of the fossil record, best left ignored as a manifestation of nothing (that is, nonevolution). (Gould, Stephen J., “Cordelia’s Dilemma,” Natural History, 1993, p. 15)

“Paleontologists just were not seeing the expected changes in their fossils as they pursued them up through the rock record. …That individual kinds of fossils remain recognizably the same throughout the length of their occurrence in the fossil record had been known to paleontologists long before Darwin published his Origin. Darwin himself, …prophesied that future generations of paleontologists would fill in these gaps by diligent search …One hundred and twenty years of paleontological research later, it has become abundantly clear that the fossil record will not confirm this part of Darwin’s predictions. Nor is the problem a miserably poor record. The fossil record simply shows that this prediction is wrong. …The observation that species are amazingly conservative and static entities throughout long periods of time has all the qualities of the emperor’s new clothes: everyone knew it but preferred to ignore it. Paleontologists, faced with a recalcitrant record obstinately refusing to yield Darwin’s predicted pattern, simply looked the other way.” (Eldredge, N. and Tattersall, I., The Myths of Human Evolution, 1982, p. 45-46)

Large Gaps

“We have so many gaps in the evolutionary history of life, gaps in such key areas as the origin of the multi-cellular organisms, the origin of the vertebrates, not to mention the origins of most invertebrate groups.” (McGowan, C., In the Beginning… A Scientist Shows Why the Creationists are Wrong, Prometheus Books, 1984, p. 95)

“There are all sorts of gaps: absence of gradationally intermediate ‘transitional’ forms between species, but also between larger groups – between, say, families of carnivores, or the orders of mammals. In fact, the higher up the Linnaean hierarchy you look, the fewer transitional forms there seem to be.” (Eldredge, Niles, The Monkey Business: A Scientist Looks at Creationism, 1982, p. 65)

“It is as though they [fossils] were just planted there, without any evolutionary history. Needless to say this appearance of sudden planting has delighted creationists. …Both schools of thought (Punctuationists and Gradualists) despise so-called scientific creationists equally, and both agree that the major gaps are real, that they are true imperfections in the fossil record. The only alternative explanation of the sudden appearance of so many complex animal types in the Cambrian era is divine creation and (we) both reject this alternative.” (Dawkins, Richard, The Blind Watchmaker, W.W. Norton & Company, New York, 1996, p. 229-230)

“All paleontologists know that the fossil record contains precious little in the way of intermediate forms; transitions between major groups are characteristically abrupt. Gradualists usually extract themselves from this dilemma by invoking the extreme imperfection of the fossil record.” (Gould, Stephen J., The Panda’s Thumb, 1980, p. 189)

“One of the most surprising negative results of paleontological research in the last century is that such transitional forms seem to be inordinately scarce. In Darwin’s time this could perhaps be ascribed with some justification to the incompleteness of the paleontological record and to lack of knowledge, but with the enormous number of fossil species which have been discovered since then, other causes must be found for the almost complete absence of transitional forms.” (Brouwer, A., “General Paleontology,” [1959], Transl. Kaye R.H., Oliver & Boyd: Edinburgh & London, 1967, p. 162-163)

“There is no need to apologize any longer for the poverty of the fossil record. In some ways it has become almost unmanageably rich, and discovery is out-pacing integration. The fossil record nevertheless continues to be composed mainly of gaps.” (Neville, George, T., “Fossils in Evolutionary Perspective,” Science Progress, vol. 48 January 1960, p. 1-3)

“The record jumps, and all the evidence shows that the record is real: the gaps we see reflect real events in life’s history not the artifact of a poor fossil record…The fossil record flatly fails to substantiate this expectation of finely graded change.” (Eldredge, N. and Tattersall, I., The Myths of Human Evolution Columbia University Press, 1982, p. 59, 163)

“Gaps between families and taxa of even higher rank could not be so easily explained as the mere artifacts of a poor fossil record.” (Eldredge, Niles, Macro-Evolutionary Dynamics: Species, Niches, and Adaptive Peaks, 1989, p. 22)

“The fossil record is much less incomplete than is generally accepted.” (Paul, C.R.C, “The Adequacy of the Fossil Record,” 1982, p. 75)

“Links are missing just where we most fervently desire them, and it is all too probable that many ‘links’ will continue to be missing.” (Jepsen, L. Glenn; Mayr, Ernst; Simpson George Gaylord. Genetics, Paleontology, and Evolution, New York, Athenaeum, 1963, p. 114)

“For over a hundred years paleontologists have recognized the large number of gaps in the fossil record. Creationists make it seem like gaps are a deep, dark secret of paleontology…” (Cracraft, in Awbrey & Thwaites, Evolutionists Confront Creationists”, 1984)

“In any case, no real evolutionist, whether gradualist or punctuationist, uses the fossil record as evidence in favour of the theory of evolution as opposed to special creation.” (Ridley, Mark, “Who doubts evolution?” “New Scientist”, vol. 90, 25 June 1981, p. 831)

“The absence of fossil evidence for intermediary stages between major transitions in organic design, indeed our inability, even in our imagination, to construct functional intermediates in many cases, has been a persistent and nagging problem for gradualist accounts of evolution.” (Gould, Stephen J., ‘Is a new and general theory of evolution emerging?’ Paleobiology, vol 6(1), January 1980, p. 127)

“The curious thing is that there is a consistency about the fossil gaps; the fossils are missing in all the important places.” (Hitching, Francis, The Neck of the Giraffe or Where Darwin Went Wrong, Penguin Books, 1982, p.19)

“If life had evolved into its wondrous profusion of creatures little by little, Dr. Eldredge argues, then one would expect to find fossils of transitional creatures which were a bit like what went before them and a bit like what came after. But no one has yet found any evidence of such transitional creatures. This oddity has been attributed to gaps in the fossil record which gradualists expected to fill when rock strata of the proper age had been found. In the last decade, however, geologists have found rock layers of all divisions of the last 500 million years and no transitional forms were contained in them.” (The Guardian Weekly, 26 Nov 1978, vol 119, no 22, p. 1)

“Given that evolution, according to Darwin, was in a continual state of motion…it followed logically that the fossil record should be rife with examples of transitional forms leading from the less to more evolved. …Instead of filling the gaps in the fossil record with so-called missing links, most paleontologists found themselves facing a situation in which there were only gaps in the fossil record, with no evidence of transformational intermediates between documented fossil species.” (Schwartz, Jeffrey H., Sudden Origins, 1999, p. 89)

“Despite the bright promise that paleontology provides a means of “seeing” evolution, it has presented some nasty difficulties for evolutionists the most notorious of which is the presence of “gaps” in the fossil record. Evolution requires intermediate forms between species and paleontology does not provide them. The gaps must therefore be a contingent feature of the record.” (Kitts, David B., “Paleontology and Evolutionary Theory,” Evolution, vol. 28, 1974, p. 467)

“A persistent problem in evolutionary biology has been the absence of intermediate forms in the fossil record. Long term gradual transformations of single lineages are rare and generally involve simple size increase or trivial phenotypic effects. Typically, the record consists of successive ancestor-descendant lineages, morphologically invariant through time and unconnected by intermediates.” (Williamson, P.G., Palaeontological Documentation of Speciation in Cenozoic Molluscs from Turkana Basin, 1982, p. 163)

 Miscellaneous

“All of us who study the origin of life find that the more we look into it, the more we feel that it is too complex to have evolved anywhere. We believe as an article of faith that life evolved from dead matter on this planet. It is just that its complexity is so great, it is hard for us to imagine that it did.” (Urey, Harold C., quoted in Christian Science Monitor, January 4, 1962, p. 4)

“If living matter is not, then, caused by the interplay of atoms, natural forces and radiation, how has it come into being? I think, however, that we must go further than this and admit that the only acceptable explanation is creation. I know that this is anathema to physicists, as indeed it is to me, but we must not reject a theory that we do not like if the experimental evidence supports it.” (H.J. Lipson, F.R.S. Professor of Physics, University of Manchester, UK, “A physicist looks at evolution” Physics Bulletin, 1980, vol 31, p. 138)

“To the unprejudiced, the fossil record of plants is in favor of special creation. Can you imagine how an orchid, a duck weed, and a palm have come from the same ancestry, and have we any evidence for this assumption? The evolutionist must be prepared with an answer, but I think that most would break down before an inquisition.” (E.J.H. Corner “Evolution” in A.M. MacLeod and L.S. Cobley, eds., Evolution in Contemporary Botanical Thought, Chicago, IL: Quadrangle Books, 1961, at 95, 97 from Bird, I, p. 234)

“The more one studies paleontology, the more certain one becomes that evolution is based on faith alone; exactly the same sort of faith which it is necessary to have when one encounters the great mysteries of religion.” (More, Louis T., “The Dogma of Evolution,” Princeton University Press: Princeton NJ, 1925, Second Printing, p.160)

“At the present stage of geological research, we have to admit that there is nothing in the geological records that runs contrary to the view of conservative creationists, that God created each species separately, presumably from the dust of the earth.” (Dr. Edmund J. Ambrose, The Nature and Origin of the Biological World, John Wiley & Sons, 1982, p. 164)

“One of its (evolutions) weak points is that it does not have any recognizable way in which conscious life could have emerged.” (Sir John Eccles, “A Divine Design: Some Questions on Origins” in Margenau and Varghese (eds.), Cosmos, Bios, Theos, p. 203)

“I am convinced, moreover, that Darwinism, in whatever form, is not in fact a scientific theory, but a pseudo-metaphysical hypothesis decked out in scientific garb. In reality the theory derives its support not from empirical data or logical deductions of a scientific kind but from the circumstance that it happens to be the only doctrine of biological origins that can be conceived with the constricted worldview to which a majority of scientists no doubt subscribe.” (Wolfgang, Smith, “The Universe is Ultimately to be Explained in Terms of a Metacosmic Reality” in Margenau and Varghese (eds.), Cosmos, Bios, Theos, p. 113)

“The origin of life is still a mystery. As long as it has not been demonstrated by experimental realization, I cannot conceive of any physical or chemical condition [allowing evolution]…I cannot be satisfied by the idea that fortuitous mutation…can explain the complex and rational organization of the brain, but also of lungs, heart, kidneys, and even joints and muscles. How is it possible to escape the idea of some intelligent and organizing force?” (d’Aubigne, Merle, “How Is It Possible to Escape the Idea of Some Intelligent and Organizing Force?” in Margenau and Varghese (eds.), Cosmos, Bios, Theos, p. 158)

“Life, even in bacteria, is too complex to have occurred by chance.” (Rubin, Harry, “Life, Even in Bacteria, Is Too Complex to Have Occurred by Chance” in Margenau and Varghese (eds.), Cosmos, Bios, Theos, p. 203)

“The third assumption was the Viruses, Bacteria, Protozoa and the higher animals were all interrelated…We have as yet no definite evidence about the way in which the Viruses, Bacteria or Protozoa are interrelated.” (Kerkut, G.A., Implications of Evolution, Pergammon Press, 1960, p. 151)

“Scientists have no proof that life was not the result of an act of creation, but they are driven by the nature of their profession to seek explanations for the origin of life that lie within the boundaries of natural law. They ask themselves, “How did life arise out of inanimate matter? And what is the probability of that happening?” And to their chagrin they have no clear-cut answer, because chemists have never succeeded in reproducing nature’s experiments on the creation of life out of nonliving matter. Scientists do not know how that happened, and furthermore, they do not know the chance of its happening. Perhaps the chance is very small, and the appearance of life on a planet is an event of miraculously low probability. Perhaps life on the earth is unique in this Universe. No scientific evidence precludes that possibility.” (Jastrow, Robert, The Enchanted Loom: Mind In the Universe, 1981, p. 19)

“…we have proffered a collective tacit acceptance of the story of gradual adaptive change, a story that strengthened and became even more entrenched as the synthesis took hold. We paleontologists have said that the history of life supports that interpretation, all the while really knowing that it does not.” (Eldredge, Niles “Time Frames: The Rethinking of Darwinian Evolution and the Theory of Punctuated Equilibria,” Simon & Schuster: New York NY, 1985, p. 44)

“With the benefit of hindsight, it is amazing that paleontologists could have accepted gradual evolution as a universal pattern on the basis of a handful of supposedly well-documented lineages (e.g. Gryphaea, Micraster, Zaphrentis) none of which actually withstands close scrutiny.” (Paul, C. R. C., 1989, “Patterns of Evolution and Extinction in Invertebrates”, Allen, K. C. and Briggs, D. E. G. (editors), Evolution and the Fossil Record, Smithsonian Institution Press, Washington, D. C., 1989, p. 105)

“The rapid development as far as we can judge of all the higher plants within recent geological times is an abominable mystery.” (Darwin, Charles R., letter to J.D. Hooker, July 22nd 1879, in Darwin F. & Seward A.C., eds., “More Letters of Charles Darwin: A Record of His Work in a Series of Hitherto Unpublished Papers,” John Murray: London, 1903, Vol. II, p. 20-21)

“An honest man, armed with all the knowledge available to us now, could only state that, in some sense, the origin of life appears at the moment to be almost a miracle. So many are the conditions which would have had to have been satisfied to get it going. But this should not be taken to imply that there are good reasons to believe that it could not have started on the earth by a perfectly reasonable sequence of fairly ordinary chemical reactions. The plain fact is that the time available was too long, the many microenvironments on the earth’s surface too diverse, the various chemical possibilities too numerous and our own knowledge and imagination too feeble to allow us to be able to unravel exactly how it might or might not have happened such a long time ago, especially as we have no experimental evidence from that era to check our ideas against.” (Francis Crick, Life Itself, Its Origin and Nature, 1981, p. 88)

“The number of intermediate varieties, which have formerly existed must be truly enormous. Why then is not every geological formation and every stratum full of such intermediate links? Geology assuredly does not reveal any such finely graduated organic chain; and this, perhaps is the most obvious and serious objection which can be urged against the theory.” (Darwin, Charles, Origin of Species, 6th edition, 1902 p. 341-342)

“Often a cold shudder has run through me, and I have asked myself whether I may have not devoted myself to a fantasy.” (Charles Darwin, The Life and Letters of Charles Darwin, 1887, Vol. 2, p. 229)

“The geological record has provided no evidence as to the origin of the fishes.” (Norman, J., A History of Fishes, 1963, p. 298)

“None of the known fishes is thought to be directly ancestral to the earliest land vertebrates.” (Stahl, B., Vertebrate History: Problems in Evolution, Dover Publications, Inc., NY, 1985, p. 148)

“The pathetic thing is that we have scientists who are trying to prove evolution, which no scientist can ever prove.” (Millikan, Robert A., Nashville Banner, August 7, 1925, quoted in Brewer’s lecture)

Uji Rata-rata Pada Sampel Tunggal Data Kontinyu

Sampel Tunggal Data Kontinyu

Perumusan masalah: Apakah setelah perlakuan (treatment) terjadi penurunan tekanan darah yang lebih besar dari nol.

Dari sampel sebanyak 10 pasien diperoleh data seperti tampak pada Tabel 2-1, nilai positif menunjukkan penurunan tekanan darah, nilai negatif menunjukkan kenaikan tekanan darah.

Tabel 2.1
Sampel Data Kontinyu

bpress
3.00
4.00
−1.00
3.00
2.00
−2.00
4.00
3.00
−1.00
2.00
bpress = rata-rata penurunan tekanan darah pasien setelah perlakuan (mmHg)

Langkah analisisnya:

Analysis
     Compare Means
          One-Sample T Test…

 Test Variable(s): bpress

 OK

Keluaran analisisnya adalah sbb:

Dari keluaran analisis terlihat rata-rata (mean) sampel adalah 1,7 mmHg – Tabel 2.2, karena kita tidak mengubah nilai Test Value = 0, maka dalam analisis rata-rata ini akan dibandingkan dengan nilai nol, artinya – sesuai perumusan masalah – kita ingin mengetahui apakah rata-rata ini secara signifikan tidak sama atau tepatnya lebih besar dari nol.

Dalam statistik problem semacam ini biasanya dinyatakan dalam formulasi hipotesis sebagai berikut:

H0 : rata-rata = 0
H1 : rata-rata ≠ 0

H0  disebut sebagai hipotesis null, dan H1 hipotesis alternatif. H1 seringpula dinyatakan pula sebagai HA.

Dari Tabel 2.3 terlihat nilai statistik t = 2,429, dengan derajat kebebasan (df) = 0, dan nilai exact significance atau signifikansi pasti [Sig. (2-tailed)] = 0,038 – Tabel 2.3.[1]

Nilai signifikansi pasti menunjukkan tingkat keyakinan (α) minimum di mana kita bisa mulai menolak H0 dan menerima H1. Dalam penelitian, α yang dipakai lazimnya adalah 0,01, 0,05 atau 0,10, semakin kecil α berarti semakin teliti “ancang-ancang” peneliti dalam menolak H0 dan menerima H1.

Pilihan nilai α, biasanya ditentukan oleh tingkat keyakinan peneliti terhadap kualitas atau validitas data yang diperoleh. Secara praktik, biasanya dipilih nilai tengah 0,05, tetapi bisa juga ketiga nilai α digunakan secara bersamaan.

H0 ditolak (berarti H1 diterima) apabila nilai signifikansi pasti lebih kecil atau sama dengan (≤) nilai α terpilih. Jadi, dengan nilai signifikansi pasti sebesar 0,035, kita bisa menolak H0 jika memilih α = 0,05, atau yang lebih besar, yakni 0,10.

Karena H0 tertolak (berarti H1 diterima), secara statistik dapat disimpulkan bahwa rata-rata penurunan tekanan darah setelah perlakuan, secara signifikan tidak sama atau tepatnya lebih besar dari nol. Perlakuan, dengan demikian,  terbukti efektif menurunkan tekanan darah pasien, yakni dengan penurunan rata-rata sebesar 1,7 mmHg.

Kita juga bisa menyatakan, dengan α = 0,05, setelah perlakuan 95% pasien secara signifikan akan mengalami penurunan tekanan darah berkisar antara 0,1165 – 3,2835 mmHg; perhatikan Tabel 2.3 kolom 95% Confidence Interval of the Difference. Angka 95% ini berasal dari 1 – 0,05!

Jika perlakuan mentargetkan rata-rata penurunan tekanan darah secara tertentu, misalnya 1 mmHg, maka pada kotak dialog analisis, Test Value perlu kita ganti dengan 1. Cobalah!


[1]Exact significance atau signifikansi pasti sering diberi lambang dengan notasi r (rho).

Belajar Kebersihan dari Ray Kroc (McDonald’s)

Ray Kroc, pendiri McDonald’s, memberi teladan yang baik mengenai peran pemimpin dalam mempromosikan dan melindungi nilai-nilai. Nilai-nilai yang dipilih McDonald’s adalah kualitas, layanan, nilai, dan kebersihan. Kebersihan khususnya sangatlah sulit untuk direalisasi, meski begitu kebersihan telah menjadi pembeda McDonald’s dari restoran-restoran cepat saji lain. Seperti franchiser makanan cepat saji lainnya, McDonald’s bergantung pada pegawai part time bergaji minimum, yang sebagian besar adalah pelajar SMA. Mereka adalah remaja-remaja, yang orang tuanya pun sangat susah membuat mereka merapikan tempat tidurnya. Bagaimana McDonald’s dapat menjadikan kebersihan sebagai pembeda?

Salah satu kisahnya adalah sebagai berikut. Suatu hari Ray Kroc masuk ke salah satu restorannya, saat sedang penuh sesak karena para pelanggan hendak makan siang. Di pojok ruangan, seseorang menumpahkan minuman di atas sebuah meja. Minuman yang tumpah telah meluber dari meja, membasahi kursi dan lantai. Para pegawai demikian sibuk, sehingga tidak ada yang memperhatikan hal tersebut, tetapi Kroc melihatnya. Kroc tentu saja bisa pergi ke manajer dan melaporkan hal tersebut, tetapi Kroc tidak melakukannya. Kroc justru pergi ke belakang, mengambil pel dan lap, lalu membersihkan sendiri minuman yang tumpah tersebut.

Tak seorangpun di restoran tersebut kenal Kroc secara personal, jadi para pegawai pastilah bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi ketika “seorang tua” ini mengambil pel dan lap. Beberapa dari mereka mungkin akan menganggapnya sebagai pencuri. Kira-kira, apa yang akan dipikirkan para pegawai jika mereka tahu bahwa si tua tersebut adalah CEO multimilyader perusahaan mereka? Setidak-tidaknya, jika saat itu di benak para pegawai ada keraguan mengenai pentingnya kebersihan, bukankah hal itu akan terhapus? Pesan tanpa kata Kroc hakekatnya menyampaikan bahwa di McDonald kebersihan adalah demikian pentingnya, sehingga bahkan seorang CEO pun harus mengepel lantai bila diperlukan. Mengetahui hal ini, pastilah membuat para karyawan McDonald’s menjadi lebih mudah untuk bekerja keras menjaga kebersihan restoran mereka.

(Diterjemahkan secara bebas dari Snyder et.al, 1994. Vision, Values & Courage: Leadership for Quality Management, New York: The Free Press.)

Pemilih Oh Pemilih

Bagi orang partai fenomena maraknya golput tentu saja sangat menggelisahkan mereka. Oleh karena itu, dalam banyak kesempatan, kadang halus kadang kasar, mereka mengecam golput. Salah satu kecaman yang populer diberondongkan, “Jika Anda golput, Anda tak lagi berhak berpartisipasi dalam proses politik pasca kondangan pemilihan!”

Saya selalu geli mendengar kecaman yang semacam itu, sebab yang ikutan memilihpun pada hakekat dan realitasnya juga kehilangan hak berpartisipasi mereka.

Memilih pada dasarnya adalah kontrak perwakilan, pemilih mewakilkan “keinginan-keinginan”nya kepada wakilnya untuk dilaksanakan. Jika kontrak ini jadi, logikanya wakil pemilih harus bertindak atas nama pemilih – memperjuangkan secara maksimal “keinginan-keinginan” pemilih.

Apa mau dikata, sampai hari ini kontrak perwakilan semacam itu tidak pernah terjadi. Setelah kontrak perwakilan selesai, wakil pemilih memang bertindak atas nama pemilih, tetapi “keinginan-keinginan” yang diperjuangkan jelas bukan milik pemilih. Bisa “keinginan-keinginan” partai, pribadi, dan yang lebih susah lagi bila “keinginan-keinginan” itu justru milik pihak asing.

Melihat kenyataan itu, disiplin ekonomi publik sejak awal justru selalu mengungkapkan bahwa calon wakil rakyat memang tidak pernah memiliki motivasi kecuali mengejar “keinginan-keinginan” pribadinya – gaji, tunjangan, relasi, lobi, popularitas, dll. “Keinginan-keinginan” pemilih hanya akan dilayani oleh wakil rakyat bila kekuatan menjadikan dan melengserkan calon wakil rakyat menjadi wakil rakyat ada di tangan rakyat. Pada kondisi semacam itu, logika wakil rakyat adalah “Tentu saja saya harus memperjuangkan ‘keingingan-keinginan’ pemilih, karena jika tidak saya akan dipecat oleh pemilih. Jika saya lengser, bagaimana saya bisa mencapai ‘keinginan-keinginan’ pribadi saya lewat jabatan wakil rakyat.”

Sayangnya, sampai saat ini pemilih hanya memiliki atau diberi kekuatan menjadikan dan tidak (tidak akan pernah?) memiliki atau diberi kekuatan untuk melengserkan wakil rakyat. Walhasil, tindakan memilih adalah tindakan gambling. Jadi, mesti Anda memilih, siap-siap saja Anda kehilangan hak berpartisipasi dalam proses politik pasca kondangan pemilihan.

Orang partai memang kaum cerdik pandai, mereka mengancam para calon golput, tetapi membuktikan ancamannya kepada para pemilih. Para pemilih malah jadi serba susah mau mengkritik. “Wong yang menjadikan mereka wakil rakyat saya juga je! Wong mereka bertindak atas nama saja je!” (YPU)